Grup Pertamina Hulu Indonesia Proaktif Dukung Penanganan Karhutla di Wilayah Kalimantan
POSKOTAKALTIMNEWS, KALIMANTAN: PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui anak perusahaan dan afiliasinya di Regional 3 Kalimantan mengambil langkah proaktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah operasi Perusahaan di Kalimantan. Langkah-langkah yang ditempuh Perusahaan di antaranya pengerahan tim pemadam, peralatan pemadaman, pemantauan, edukasi masyarakat, serta koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Upaya pencegahan dan
penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan mengedepankan keselamatan
pekerja, masyarakat, fasilitas operasi, dan lingkungan. Di lapangan, tim
Perusahaan juga bekerja sama dengan instansi terkait untuk memadamkan
titik-titik api di sekitar wilayah operasi yang berdampak bagi masyarakat dan
lingkungan.
Menanggapi karhutla di
Kalimantan, Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng menyampaikan empati
dan keprihatinan kepada masyarakat yang terdampak. “Upaya dan prioritas
perusahaan dalam menghadapi karhutla ini semata-mata untuk memastikan perlindungan
bagi pekerja, fasilitas, masyarakat, dan lingkungan,’’ jelasnya.
Pada Kamis (20/8/2026) PT
Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Tim Emergency Intervention Team (EIT) South
Processing Station (SPS) bersama Pemadam Kebakaran (Damkar) Samboja berhasil
memadamkan titik api yang berada sekitar 100 meter di sebelah barat fasilitas
operasi Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam.
Penanganan karhutla juga
dilakukan anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS)
bersama relawan dan Dinas Kehutanan pada Jumat (21/8/2026) di wilayah Muara
Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang berada di sekitar area migas Nilam
Field. Tim menggunakan fire truck advancer dan vacuum truck berkapasitas 15
ribu hingga 24 ribu liter air untuk mengendalikan rambatan api di wilayah
terdampak.
Sementara itu, PT
Pertamina EP (PEP) Bunyu turut melakukan pemadaman titik api di Jalan Lingkar
Bunyu, Kalimantan Utara, yang berjarak sekitar 14,1 kilometer dari area operasi
Perusahaan. Penanganan dilakukan melalui kolaborasi Tim Fire PEP Bunyu dan Tim
Damkar Kalimantan Utara.
Selain langkah pemadaman,
Muharram menjelaskan bahwa Grup PHI juga memperkuat langkah pencegahan melalui
Tim Community Based Security PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan
melakukan sosialisasi dan pelibatan masyarakat mengenai bahaya karhutla di
Kelurahan Lawe-Lawe, yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Terminal
Lawe-Lawe, pada 19–23 Agustus 2026.
Langkah preventif juga
dilakukan PT Pertamina EP (PEP) Tarakan melalui sosialisasi bahaya karhutla
kepada relawan penanganan bencana bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Provinsi Kalimantan Utara dan BPBD Kota Tarakan di Kecamatan Tarakan
Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi potensi karhutla.
Manager Communication
Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengungkapkan bahwa penanganan karhutla
membutuhkan kerja sama berbagai pihak. “Tantangannya tidak hanya berkaitan
dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan dan pengendalian agar api tidak
kembali meluas. Cuaca panas, dengan suhu yang mencapai 34 – 36 derajat celcius
pada siang hari, meningkatkan risiko kekeringan vegetasi dan rambatan api
terutama di kawasan bergambut,” jelasnya.
Menurut Dony, kondisi ini
menjadi tantangan bagi personel di lapangan karena api dapat bertahan di bawah
permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pembasahan dan pendinginan
belum tuntas.
Ia menambahkan bahwa Grup
PHI terus berkoordinasi dengan pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan
masyarakat dalam setiap langkah penanganan sesuai kewenangan dan ketentuan yang
berlaku. “Kami mengapresiasi seluruh pihak yang terus bekerja di lapangan.
Mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, pemadam kebakaran, relawan,
hingga masyarakat. Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memastikan
keselamatan pekerja dan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan,” kata Dony.
PHI meyakini kolaborasi
yang erat dengan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan
merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di
Kalimantan. “Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Perusahaan untuk terus
mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi demi ketersediaan dan
ketahanan energi Indonesia,” pungkasnya.(PK)